Saya dan Kuliner Indonesia

4 min read

Berawal dari hobi yang sudah sejak lama saya geluti, dan juga sebagai salah satu kebutuhan hidup primer manusia, akhirnya saya memutuskan untuk membuat tulisan mengenai substansi penting yang satu ini: makanan.

Lho, kok, makanan?

Iya betul, saya memang hobi makan. Meski perawakan saya kurus seperti kondisi di hari ke-39 dari orang yang sedang berpuasa 40 hari, saya termasuk golongan omnivora yang porsi makannya di atas rata-rata. Soal kurva berat badan saya yang tidak juga kunjung menunjukan peningkatan, itu wallahu a’lam bisshawab. Saya juga tidak tahu kenapa.

Dari bermacam-macam olahan makanan yang pernah saya santap, tentu ada beberapa yang saya suka dan saya tidak suka. Saya yakin semua orang juga begitu, termasuk juga kalian, ya to? Karena yang namanya selera itu sangat relatif, tidak ada parameter pasti yang dapat mengukur kadar kelezatan sebuah masakan.

[DISCLAIMER] Untuk kamu-kamu yang sedang berpuasa, saya hanya mengingatkan, ada baiknya membaca artikel ini di malam hari setelah berbuka atau pagi buta sebelum sahur. Akan tetapi jika kamu yakin imanmu cukup kuat untuk menahan godaan setan yang terkutuk, ya monggo dilanjut hehe.

Setelah dengan saksama saya melihat, memerhatikan, menimbang, serta menilai, pada akhirnya saya memutuskan, bahwa nama-nama yang tersebut dalam daftar di bawah ini adalah makanan ter-favorit versi saya.

8. Sate Madura

Sate kambing bakar
Jajaran sate kambing yang berpose indah di atas piring

Sebagai pembuka, saya awali daftar panganan ter-enak versi saya ini dengan olahan daging, baik itu daging ayam maupun daging kambing, yang disebut dengan sate.

Sate di sini saya khususkan, bukan sate Padang, sate usus, sate kikil, atau sate-sate yang lain, melainkan sate Madura.

Dari segi visual, sate Madura umumnya berwarna kecokelatan dengan sedikit bercak-bercak hitam bekas dibakar. Bentuknya berupa potongan daging kecil-kecil yang ditusukkan ke tangkai yang biasanya terbuat dari bambu untuk kemudian dibakar sampai matang. Sedangkan untuk serving-nya, sate biasanya disajikan dengan bumbu kacang atau bumbu kecap, atau bisa juga dua-duanya. Terserah, sesuai selera. Kalau saya pribadi, pakai bumbu kacang itu udah paling bener.

7. Gulai Kambing

Gulai kambing
Gulai kambing dengan kuahnya yang begitu yellowish nan menggugah selera

Makanan lezat yang satu ini juga tak kalah membuat saya ngiler. Daging kambing yang diolah dengan berbagai macam rempah-rempah khas nusantara menyatu dengan apik dalam balutan kuah santan yang kental, menghadirkan cita rasa yang begitu orisinil dan tak terlupakan.

Bagi saya, gulai kambing ini seperti sudah terlahir ke dunia satu paket dengan sate. Seolah seperti nasi goreng dengan kerupuk, koka-kola dengan es batu, atau smartphone dengan kuota internet. Tak bisa dipisahkan.

6. Nasi Padang

Nasi Padang pakai rendang emang nendang, sob
Nasi Padang pakai rendang emang nendang, sob

Meski bukan orang Padang, ataupun tinggal di Padang, kita pasti sudah sangat familiar dengan kuliner super nikmat ini, betul?

Semenjak restoran masakan Minangkabau mulai menginvasi dataran Jawa puluhan tahun lalu, banyak orang yang langsung jatuh cinta terhadap rasanya. Bagaimana tidak, masakan Padang dengan rendang-nya yang fenomenal telah membuktikan kepada kancah internasional sebagai makanan terlezat di dunia. Di situ saya merasa bangga sekaligus haru.

Oh iya. Sekadar tips untuk kamu yang mungkin belum tahu, atau buat kamu yang masih suka makan nasi Padang di tempat, sungguh, berhentilah melakukan kebiasaan tersebut. Karena berdasarkan survey yang saya lakukan, makan nasi Padang dengan dibungkus volumenya akan lebih banyak dibanding jika kamu makan di tempat. Buktikan sendiri.

5. Nasi Goreng

Nasi goreng
Nasi goreng, makanan oriental yang keindonesiaan

Namanya juga orang Indonesia, belum disebut makan namanya kalau tak pakai nasi. Bahkan kalau kamu sedang nggak punya lauk, nasi putih aja udah, digoreng, dan voila, jadilah nasi goreng.

Nasi goreng memang sejatinya bukan makanan yang berasal dari Indonesia, melainkan dari Tiongkok. Namun eksistensinya sudah go internesyenel dan sampai saat ini sudah banyak variasi nasi goreng di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Makanan ini kemudian ber-akulturasi sempurna dengan racikan bumbu khas Indonesia melahirkan sebuah cita rasa baru yang nikmat tiada tara.

Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, kamu nggak akan merasakan pengalaman paripurna menikmati nasi goreng jika tidak disertai dengan kerupuk yang kriuk. Sebab ingatlah,

“Penikmat nasi goreng yang baik adalah penikmat nasi goreng yang tidak melupakan kerupuknya.” – Fatah, 2016

4. Nasi Uduk Semur Jengkol

Nasi uduk semur jengkol khas Betawi
Nasi uduk semur jengkol khas Betawi

Makanan ini adalah makanan yang sejujurnya membuat saya bertanya keheranan dalam hati tiap kali menyantapnya. “Ini yang enak nasi uduknya, atau semur jengkolnya?” Nasi uduknya aja udah enak. Sedangkan semur jengkol, itu sebetulnya, bau tapi enak, atau enak tapi bau? Ah, jengkol itu memang bau dan enak.

Maka, sudah tak dapat dipungkiri lagi, perpaduan antara keduanya dapat melahirkan sebuah harmoni yang begitu ciamik dan revolusioner. Namun pesan saya, meski rasanya begitu menggoda untuk disuap setiap hari, jangan konsumsi makanan ini terlalu sering. Karena selain berpeluang menjauhkanmu dari orang-orang terdekatmu, kamu juga bisa terkena jengkolan.

Hah, jengkolan? Apa tuh?

Iya, jengkolan. Kalau kamu belum tahu, penjelasannya bisa dibaca di sini.

3. Gudeg

Gudeg Yu Djum, salah satu pionir per-gudeg-an nusantara.
Gudeg Yu Djum, salah satu pionir per-gudeg-an nusantara

Kuliner khas Jawa biasanya memang didominasi oleh rasa manis, seperti orang-orangnya. (Iyain aja) Begitu juga dengan kuliner legendaris ini. Di balik warnanya yang gelap dan kecokelatan, makanan berbahan dasar nangka ini ternyata bukan makanan biasa. Konon, gudeg adalah makanan para raja-raja Mataram zaman dahulu.

Kebayang kan, betapa eksklusifnya makanan ini. Pe-label-an gudeg sebagai makanan kaum bangsawan bukan tanpa alasan, melainkan salah satunya karena teknik pembuatannya yang nggak sembarangan. Untuk membuat satu sajian gudeg saja dibutuhkan waktu pembuatan yang cukup lama. Sangat lama bahkan. Beberapa sumber terpercaya mengatakan masak gudeg bisa memakan waktu sampai delapan jam.

Saya yakin kamu nggak akan mau makan gudeg kalau cara penyajiannya seperti beli nasi goreng. Kamu datang ke warung, pesan, lalu baru dibuatkan.

2. Bakpia Pathuk 75

Bakpia pathuk 75 yang legendaris
Bakpia pathuk 75 yang legendaris

Yogyakarta kembali memberikan sumbangsihnya terhadap kemahalezatan kuliner tanah air. Kali ini melalui makanan yang juga sudah sangat termasyhur di kalangan turis Jogja selain gudeg, yaitu bakpia.

Dengan kulit luar agak keras dan tekstur dalam yang begitu lembut, bakpia dapat membuat siapapun yang memakannya pasrah tak berdaya untuk berhenti mengunyah. Seakan terhipnotis untuk melanjutkan gigitan demi gigitan hinga tau-tau udah habis.

 

1.  Indomie Goreng

Indomie goreng memang paling outsanding dibanding para pesaingnya
Indomie goreng memang paling outsanding dibanding para pesaingnya

Terlepas dari segala macam kontroversinya, Indomie tetap menjadi yang pertama di hati saya dan mungkin juga jutaan manusia-manusia lain di luar sana. Pepatah kuno mengatakan, “Beras itu makanan pokok, tapi Indomie itu pokoknya makanan.”  Ia lebih dari sekadar mie instan.

Produk unggulan PT Indofood Sukses Makmur Tbk. ini sukses mengungguli komoditas lain dalam persaingan bahan pangan di Indonesia. Tidak hanya itu, Indomie juga menghadirkan berbagai macam pilihan rasa baik itu rasa kuliner nasional maupun internasional, menjadikan Indomie pilihan nomor wahid bagi rakyat.

Bukannya saya mengada-ngada, tapi berdasarkan data yang saya lihat di lapangan, faktanya memang begitu. Lihatlah betapa Indomie telah menjadi penyelamat bagi kaum mahasiswa di saat akhir bulan. Tak jarang, Indomie juga menjadi solusi konkret saat saya tidak sempat memasak untuk sahur. Dan jangan lupakan nasib pengusaha burjo yang mencari penghidupan dari Indomie, pikirkan betapa Indomie sangat berjasa banyak dalam mengurangi tingkat pengangguran.

Atas dedikasi luar biasanya kepada bangsa dan negara, maka saya rasa sudah menjadi sebuah keniscayaan untuk meletakkan Indomie pada posisi pertama.

Sekian.

 

6 Replies to “Saya dan Kuliner Indonesia”

Leave a Reply