Menuntut Ilmu Tidak Mengenal Tempat

3 min read

Kampus Pusat Unsoed Purwokerto

Menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap muslim. Ketika berbicara tentang pengalaman, yang terlintas di pikiran saya adalah selalu saja hal-hal yang seru, menyenangkan, tak terlupakan, atau bahkan menegangkan yang saya alami dalam hidup. Ketika diminta untuk bercerita soal pengalaman, hampir selalu yang saya ceritakan adalah pengalaman yang itu-itu lagi, yang itu-itu lagi.

Sudah tidak ingat berapa kali saya menceritakan soal pengalaman saya tentang belajar berenang di sungai, bermain api sampai terbakar, berkemah di hutan, terlebih lagi soal liburan dan jalan-jalan. Bosan.

Hal yang ingin saya ceritakan kali ini adalah sesuatu yang berbeda dari yang biasa saya lakukan, yaitu soal pendidikan. Karena jujur saja, jarang-jarang saya bercerita tentang ranah yang satu ini. Tulisan ini saya buat selain untuk mengenang, juga sebagai dokumentasi pribadi saya.

Baiklah, langsung saja saya mulai.

SDIT Al-Husnayain Bekasi

SDIT Al-Husnayain
Suasana outing class di SDIT Al-Husnayain

Yayasan Al-Husnayain Bekasi didirikan pada tahun 1990 oleh Ust. Bali Pranowo, MBA. yang beralamat di Jalan Rambutan Raya Kompleks Perumahan Harapan Baru, Bekasi Barat. Namun, SDIT-nya sendiri baru berdiri tujuh tahun kemudian yaitu tahun 1997.

Di sini saya memulai karier saya sebagai siswa sekolah dasar kelas satu. Saya masih ingat betul ketika itu termasuk anak yang bandel untuk ukuran kelas satu SD; kenakalan seperti memanjat pagar sekolah, kabur saat jam solat dzuhur, bahkan ngempesin ban sepeda teman sudah pernah saya lakukan. Astaghfirullahal ‘azhiim.

SDIT Badrussalam Magetan

SDIT Badrussalam Magetan
Para Santri SDIT Badrussalam tahun 2005

Menginjak kelas empat sekolah dasar, saya pindah sekolah ke Magetan, Jawa Timur. Tepatnya di dusun Jaranan, Kecamatan Kawedanan, desa Ngadirejo. Di situ terletak sebuah pondok pesantren yang menampung anak-anak SD dari berbagai daerah di Indonesia. Di sinilah pertama kalinya saya mempunyai teman yang rumahnya jauh-jauh, dengan bahasa dan logat yang berbeda-beda pula. Seru.

Mengenal orang lain dengan berbagai macam latar belakang yang berbeda memang sangat menyenangkan. Dapat melakukan hampir seluruh kegiatan sehari-hari mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi secara berjamaah itu juga merupakan sebuah kenikmatan tersendiri yang saya rasakan ketika pertama kali nyantri.

Selain itu, di sini juga saya banyak belajar bahasa Jawa dan permainan-permainan tradisional yang belum pernah saya tahu sebelumnya, seperti permainan goinan, meriam bambu, dan banyak lagi.

Ma’had Umar bin Khattab Surabaya

Ma'had Umar bin Khattab Surabaya
Gedung Ma’had Umar bin Khattab tampak samping

Setelah lulus sekolah dasar, saya beranjak dari tanah Magetan menuju Surabaya. Ma’had Umar bin Khattab ini sebenarnya adalah ma’had pendidikan bahasa Arab dan studi Islam, yang diperuntukkan bagi mereka yang kuliah. Ma’had ini didirikan atas kerjasama pemimpin pusat Muhammadiyah dengan Asia Muslim Charity Foundation (AMCF).

Terletak di daerah Gununganyar, Surabaya, ma’had ini juga membuka program tahfidz bagi mereka yang ingin menghafal Alquran. Di program tahfidz inilah saya menuntut ilmu dan berkecimpung. (halah)

Sayangnya, keberkecimpungan saya di ma’had ini tidak lama, karena pada saat itu saya nggak betah. Akhirnya setelah beberapa bulan tinggal di sana, saya keluar. Namun alhamdulillah, saya masih dapat hafalan lumayan banyak dibanding sebelumnya selama di ma’had itu.

SMPIT Daarul Fikri Cikarang

SMPIT Daarul Fikri Cikarang Bekasi
SMPIT Daarul Fikri tahun 2009

Satu tahun menganggur dari aktivitas belajar-mengajar formal, akhirnya di tahun berikutnya saya masuk SMP. Itupun alhamdulillah langsung bisa melanjutkan ke kelas delapan tanpa harus memulai dari kelas tujuh.

Adalah Pondok Pesantren Daarul Fikri yang menjadi pilihan orangtua saya untuk menjadi tempat saya menuntut ilmu selanjutnya. SMPIT Daarul Fikri terletak di kp. Warung Bambu, Telaga Murni, Cikarang Barat, Bekasi. Daarul Fikri sendiri diasuh oleh KH Ahmad Husein Dahlan dan berada di bawah yayasan Qobasat Annur.

MA Al-Hikmah Jakarta

Masjid Al-Hikmah Mampang
Masjid Al-Hikmah Pela Mampang Jakarta Selatan

Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah pertama, saya melanjutkan studi ke Jakarta, yaitu di Madrasah Aliyah Al-Hikmah, Mampang, Jakarta Selatan. Tidak seperti sekolah saya sebelum-sebelumnya, di Al-Hikmah tidak ada program pesantren.

MA Al-Hikmah berada di bawah yayasan Al-Hikmah yang dimotori oleh KH Abul Hasib Hasan yang saya lupa tahun berapa didirikannya, sudah lama pokoknya.

Rumah Quran El-Fawaz

Rihlah santri rumah quran El-fawaz
Rihlah santri rumah quran El-Fawaz bersama Ust DR. dr. Abul A’la Almaududi

Selama bersekolah di MA Al-Hikmah, saya bergabung dan tinggal dalam sebuah rumah quran besutan Ust. dr. Abul A’la Al-Maududi yang juga terletak tidak jauh dari kompleks Al-Hikmah, yang bernama Rumah Al-Quran El-Fawaz. Fokus di sini sudah jelas, yaitu menghafal Al-Quran. Jadi paginya saya berangkat sekolah, pulangnya menjalani hidup sebagai santri lagi.

Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto

Kampus Pusat Unsoed Purwokerto
Kampus Pusat Unsoed Purwokerto

Setelah lulus dari bangku SMA, saya pergi menuntut ilmu ke kota yang belum pernah terbayang oleh saya bagaimana bentuknya. Tau-tau milih aja dan alhamdulillah diterima.

Kehidupan sebagai mahasiswapun saya jalani dengan penuh keikhlasan dan ketabahan. Banyak perubahan yang saya rasakan ketika pertama kali hidup nge-kost. Ternyata, hidup di pesantren dan di kosan itu berbeda jauh. Dan inilah institusi pendidikan negeri yang pertama saya cicipi.

Pada awalnya agak canggung memang, namun setelah dijalani ya ternyata fine-fine saja. Setelah kurang-lebih tiga tahun menyeburkan diri dalam kegiatan perkuliahan, saya memilih hiatus sejenak dari bangku kuliah karena beberapa alasan yang lebih krusial, hehe.

Pesantren Sintesa Magetan

Pesantren Sintesa tampak depan dari kamera Google Maps
Pesantren Sintesa tampak depan dari kamera Google Maps

“Kembali ke Magetan,” frasa tersebut saya rasa cocok untuk menggambarkan tempat saya menimba ilmu saat ini. Ya, inilah alasan saya break dari dunia perkuliahan. Saya memutuskan untuk break kuliah dan kembali ke Magetan untuk kembali menimba ilmu di Pesantren Sintesa.

Sintesa ini pesantren yang betul-betul berbeda dari pesantren-pesantren pada umumnya. Beneran beda. Kalau nggak percaya lihat saja sendiri di sini.

Pesantren Sintesa berdiri di bawah yayasan Badrussalam, dengan lokasi yang masih di dusun Jaranan desa Ngadirejo, kec. Kawedanan, Magetan, Jawa Timur.

Penutup

Seperti yang telah saya sampaikan di judul, bahwa menuntut ilmu itu tidak terbatas pada tempat. Sebetulnya masih ada beberapa tempat yang tidak tersebut dalam daftar di atas. Dan saya belum tahu akan ke mana lagi saya mencari ilmu setelah ini.

Bumi ini sangat luas, dan ilmu ada di mana-mana, tinggal kita sebagai pencari ilmu mau menjemput atau tidak. Ulama-ulama ahli hadits telah mencontohkan kesabaran mereka dalam menuntut ilmu, dan cara belajar mereka adalah dengan mendatangi guru meski jaraknya sangat jauh. Terakhir, mengutip nasehat Imam Syafii,

“Merantaulah, orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan hidup asing. (di negeri orang)”

Diwan Al-Imam As-Syafii

 

3 Replies to “Menuntut Ilmu Tidak Mengenal Tempat”

Leave a Reply