Memahami Shutter Speed Kamera dalam Empat Langkah Mudah

4 min read

Memotret objek bergerak dalam kondisi minim cahaya merupakan tantangan tersendiri.

Shutter speed kamera adalah salah satu elemen paling berpengaruh dari tiga elemen dasar yang membentuk exposure dari hasil fotomu. Bisa dikatakan, dari ketiga elemen dasar fotografi yaitu aperture, shutter speed, dan ISO, shutter speed-lah yang memiliki peran paling besar.

Dengan pengetahuan yang minim tentang bagaimana shutter speed akan memengaruhi hasil fotomu, kamu mungkin akhirnya bakal menghasilkan foto yang tampak kabur, atau bahasa lainnya, nge-blur. Hehehe.

Apa Sebetulnya Shutter Speed Itu?

Sebelum mengupas lebih jauh tentang bagaimana cara shutter speed bekerja, kita bisa ambil garis besar bahwa shutter speed adalah lamanya waktu kamera kita dalam ‘merekam’ sebuah gambar. Shutter speed 1/100 berarti waktu pengambilan gambar adalah 1/100 detik, begitupun dengan 1/200, 1/500, dst.

Semakin lama shutter speednya, maka waktu kamera ‘merekam’ foto juga akan semakin lama, dan efeknya adalah, cahaya yang tertangkap sensor kamera semakin banyak sehingga hasil foto akan semakin terang.

Selama proses ‘merekam’ gambar, sensor kamera akan menangkap pantulan gambar yang masuk ke sensor. Misalnya kita mengambil gambar dengan shutter speed 3″, artinya kamera merekam gambar dalam waktu 3 detik, dan selama itu pula refleksi yang tertangkap sensor akan terekam, termasuk ketika refleksi itu bergerak selama ia direkam. Inilah yang membuat foto kita tampak kabur.

Motion Freeze dan Motion Blur

Motion blur

Kalau bukan karena sengaja ingin menciptakan efek gambar ‘kabur’, kamu mungkin akan lebih memilih untuk menggunakan kecepatan shutter speed yang tinggi untuk menghindari motion blur ini. Motion blur juga sangat dipengaruhi oleh focal length dari sebuah lensa. (baca di sini tentang lensa)

Lensa tele membutuhkan shutter speed yang lebih cepat untuk mendapatkan gambar tanpa adanya blur. Karena sedikit saja gerakan pada lensa akan ‘diperbesar’ oleh lensa ini. Sementara lensa wide-angle membutuhkan shutter speed yang lebih rendah karena detail yang dihasilkan oleh lensa wide lebih kecil.

Sebagai pedoman gampangnya, kamu bisa memotret gambar yang tajam dan tanpa blur dengan men-setting shutter speed berdasarkan satu per focal length.

Contohnya begini, misal kamu ingin memotret sebuah objek pada focal lenght 30mm, maka shutter speed yang ‘aman’ adalah 1/30. Namun apabila kamu menggunakan lensa kit dengan focal lenght 18mm, dengan shutter speed 1/20 mungkin masih akan ada blur. Cara ini berlaku hanya pada kamera dengan sensor full frame. (Baca perbedaan full frame dan cropped di sini)

Sementara untuk kamera dengan sensor tidak full frame, atau cropped sensor, atau APS-C, kamu mungkin akan lebih baik kalau menggunakan kecepatan rana di atas focal length, karena sensor ini memiliki efek perbesaran. Artinya, dengan kamera bersensor APS-C, pada focal length yang sama yaitu 30mm, shutter speed yang ideal adalah 1/45 detik.

Dalam aturan fotografi, selalu ada yang namanya pengecualian. Seperti misalnya ada beberapa lensa yang memiliki fitur image stabilization, yang mana dengan fitur tersebut kita diperbolehkan menggunakan shutter speed rendah pada batas yang bisa ‘ditolerir’.

Seiring jam terbangmu yang makin tinggi, kamu akan mengasah skill vital yang satu ini setahap demi setahap sampai akhirnya terbiasa dan memiliki ‘sense’-mu sendiri. Ini adalah contoh motion blur kreatif:

Contoh penggunaan efek blur yang kreatif shutter speed kamera
Contoh penggunaan efek blur yang kreatif.

Motion Freeze

Memotret objek motion freeze sebenarnya lebih sederhana dibanding memotret motion blur.

Freezing, atau ‘pembekuan’, terjadi ketika sebuah foto dipotret dengan kecepatan tinggi, sekitar 1/500 detik ke atas. Kira-kira segitulah angka shutter speed yang akan menghasilkan foto tanpa motion blur.

Secara pribadi saya sendiri kurang menyukai memotret pada kecepatan ini, karena foto yang dihasilkan akan betul-betul ‘membeku’ tanpa ada efek gerakan. Kecuali, jika memang ingin memotret dengan teknik levitasi, atau membuat efek melayang pada objek. Contohnya seperti foto berikut:

Shutter speed kamera
Untuk membuat foto levitasi seperti ini, shutter speed kamera yang digunakan harus tinggi. (Source: Levitasi Hore)

Menggunakan Shutter Speed yang Tepat pada Waktu yang Tepat

Shutter speed tinggi untuk memotret menggunakan lensa tele

Ketika menggunakan lensa tele, sangat penting untuk diperhatikan agar usahakan memotret dengan kecepatan tinggi (setidaknya 1/500). Untuk meminimalisir getaran pada kamera, memang bisa menggunakan tripod dan remote release.

Menggunakan tripod dan remote release membantu kita mengambil gambar bahkan tanpa menyentuh kamera secara langsung sehingga tidak ada getaran/goyang. Sebagai alternatif dari remote release, kita bisa menggunakan timer, tapi tentu saja, kalau objeknya bergerak bisa-bisa kita malah kehilangan moment-nya. Hahaha.

shutter speed kamera
Lensa tele digunakan untuk membidik objek yang jauh, oleh karena lensa ini berat, jadi gunakanlah shutter speed yang tinggi guna meminimalisir kehilangan moment.

Memotret Objek Bergerak pada Kondisi Cahaya Gelap

Dalam fotografi panggug, objek yang ingin kita potret hampir selalu bergerak ke sana-ke mari di atas panggung. Di sini, kita akan memiliki dua pertimbangan, yaitu cahaya yang sedikit dan shutter speed yang cepat.

Kondisi ini sebetulnya masih bisa ‘diakalin’ dengan menggunakan bukaan aperture lebar dan ISO yang tinggi. Dengan begitu, shutter speed yang cepatpun tetap akan membuat hasil foto kita cukup terang dan tanpa ada blur. Tetapi karena kita mengunakan bukaan aperture yang lebar dan ISO yang cukup tinggi, efeknya pada hasil foto kita mungkin akan mengurangi detail dan tampak noise.

Shutter speed kamera
Memotret objek bergerak dalam kondisi minim cahaya merupakan tantangan tersendiri.

Efek Kreatif dengan Menggunakan Shutter Speed

Efek creative blur

Shutter speed kamera
Contoh foto dengan efek creative blur

Dengan bantuan remote trigger untuk kamera dan sebuah tripod untuk menopangnya, kamu bisa bermain-main dengan shutter speed kamera. Teknik ini dapat menciptakan hasil foto yang menarik di mana ‘blur’ yang menjadi point of interest-nya.

Efek creative blur dengan flash

Shutter speed kamera
Efek creative blur dengan flash membuat fokus pada objek namun blur pada background.

Menambahkan flash pada foto dengan shutter speed rendah akan berpengaruh pada si objek yang tampak frozen. Selama memotret dengan shutter speed rendah dan flash, kamu bisa mengarahkan kamera untuk merekam cahaya dan menambahkan efek blur untuk hasil yang unik nan artsy.

Efek kreatif dengan teknik panning

Untuk mengaplikasikan teknik panning, kameramu harus mengikuti objek yang bergerak
Untuk mengaplikasikan teknik panning, kameramu harus mengikuti objek yang bergerak.

Teknik panning adalah teknik di mana kamu mengarahkan kameramu mengikuti pergerakan objek utama. Efeknya, background pada hasil fotomu akan tampak blur sedangkan objek utamanya tidak.

Teknik light painting

Untuk mengaplikasikan teknik light painting, yang kamu butuhkan adalah settingan low exposure (shutter speed rendah), dan sebuah sumber cahaya. Kamu mengambil beberapa foto dengan arah cahaya yang berbeda, kemudian menggabungkan semuanya sehingga menghasilkan sebuah foto yang super keren. (lihat video di bawah)

Masih banyak yang salah paham dalam membedakan light painting dan light graffiti. Di bawah ini adalah contoh hasil foto dengan light painting.

Contoh hasil foto dengan teknik light painting.
Contoh hasil foto dengan teknik light painting.

Nah, ini adalah video bagaimana cara membuatnya.

 

Teknik light graffiti

Berbeda dengan light painting ya, light graffiti itu ibarat ‘menggambar’ dengan cahaya. Yang dibutuhkan untuk membuat light graffiti hanyalah long exposure dan gerakan cahaya yang konstan. Karena cahaya yang konstan akan memudahkan kita dalam ‘menggambar’.

Contoh kreatif menggunakan teknik light graffiti.
Contoh kreatif menggunakan teknik light graffiti.

Teknik foto long exposure

Teknik ini hanya bisa diterapkan pada kondisi minim cahaya, seperti misalnya ada malam hari. Intinya adalah menggunakan shutter speed rendah untuk menciptakan exposure yang tepat. Karena shutter speed yang digunakan rendah, teknik ini hanya mungkin dilakukan dengan menggunakan tripod atau sesuatu yang datar untuk meletakkan kamera selama proses pengambilan gambar.

Foto ini diambil menggunakan teknik long exposure. Contoh lain penggunaan teknik ini adalah, foto Milky Way atau Bimasakti shutter speed kamera
Foto ini diambil menggunakan teknik long exposure. Contoh lain penggunaan teknik ini adalah, foto Milky Way atau Bimasakti.

That’s all, folks!

Happy hunting! 😉

One Reply to “Memahami Shutter Speed Kamera dalam Empat Langkah Mudah”

Leave a Reply