Memahami Aperture atau Diafragma Kamera dalam Lima Langkah

Diafragma kamera merupakan salah satu dari tiga faktor pembentuk exposure foto. Oleh karenanya, memahami diafragma atau aperture akan membuat kamu lebih mudah dalam memperkirakan dan mengatur komposisi dari foto yang akan kamu ambil.

Ada yang namanya efek negatif dan juga efek kreatif yang akan dihasilkan oleh aperture yang berbeda. Artikel ini akan membantumu memahami apa sih efek negatif dan efek kreatif yang dihasilkan dari penggunaan aperture yang berbeda, lengkap dengan bagaimana cara menggunakannya dengan baik.

Apa itu diafragma?

Cara paling mudah untuk memahami diafragma kamera adalah dengan menganalogikannya sebagai pupil dari sebuah mata. Contohnya saja pupil mata kita. Dalam keadaan gelap, pupil mata kita membesar. Semakin besar ukuran pupil, semakin banyak cahaya yang dapat masuk untuk diterima ke dalam mata, sehingga kita dapat melihat dengan baik meski kondisi cahaya minim.

Diafragma disebut juga aperture. Tiga elemen utama tersebut, diafragma, ISO, dan shutter speed, menghasilkan yang namanya exposure. Ukuran diameter aperture dapat berubah-ubah, mengatur banyak atau seikitnya cahaya yang masuk ke sensor kamera, tergantung pada situasinya.

Untuk penggunaan diafragma yang lebih kreatif dan apa saja pengaruhnya akan dibahas pada sesi selanjutnya, namun mengenai cahaya dan exposure, intinya adalah diafragma yang lebih lebar membuat cahaya yang masuk juga lebih banyak, sementara diafragma yang lebih kecil membuat cahaya yang masuk juga lebih sedikit.

Lalu apa maksud angka setelah f/ pada diafragma?

Diafragma kamera diukur dengan sesuatu yang disebut dengan skala f-stop. Pada kameramu, kamu akan melihat simbol ‘f/’ yang diikuti oleh angka yang berbeda.

Angka tersebut menandai seberapa lebar atau seberapa sempit diafragma yang terbuka, yang mana akan berefek terhadap exposure foto dan depth of field-nya (akan dijelaskan mengenai depth of field juga di bawah). Rumusnya adalah, semakin kecil angkanya, menandakan bukaan diafragma yang semakin besar. Sebaliknya, semakin besar angkanya, artinya diafragma yang terbuka juga semakin sempit.

Memang agak sedikit membingungkan, ya. Hehehe. Mengapa angka yang lebih kecil justru menandakan diafragma yang lebih lebar? Jawabannya sebenarnya sangat matematis. Saya sendiri juga kurang paham, namun tak apa. Hal tersebut sifatnya teknis. Yang terpenting adalah bagaimana kamu bisa memanfaatkannya secara praktis, kan? 😀

Setiap lensa memiliki aperture atau diafragma maksimal yang berbeda-beda. Misalnya saja lensa Canon 50mm f/1.2 L atau yang paling umum lensa kit Canon 18-55mm f/3.5-5.6. Nah, angka setelah f/ tersebut merupakan angka yang dihasilkan dari perhitungan focal length lensa dan diameter lensa.

Bagaimana diafragma menentukan exposure foto?

Perbedaan angka pada skala diafragma sangat berkaitan dengan perbedaan exposure sebuah foto: semakin lebar bukaan diafragmanya, semakin terang exposure foto yang akan dihasilkan. Cara terbaik untuk menjelaskan ini, saya kira, adalah dengan mengambil beberapa buah seri foto dengan tidak mengubah apapun kecuali bukaan diafragmanya.

diafragma kamera
Foto dengan setelan diafragma kamera f/2
diafragma kamera
Foto dengan setelan diafragma kamera f/2.8
diafragma kamera
Foto dengan setelan diafragma kamera f/4
diafragma kamera
Foto dengan setelan diafragma kamera f/5.6
diafragma kamera
Foto dengan setelan diafragma kamera f/8
diafragma kamera
Foto dengan setelan diafragma kamera f/11
Foto dengan setelan diafragma kamera f/16
Foto dengan setelan diafragma kamera f/16
diafragma kamera
Foto dengan setelan diafragma kamera f/22

Coba perhatikan lingkaran putih pada foto pertama dengan f/2, lalu bandingkan lingkaran tersebut pada foto-foto yang lain. Semakin kecil bukaan diafragma, yang ditandai dengan semakin besarnya angka pada skala f/, semakin terlihat jelas pula lingkaran putih tersebut. Namun di sisi lain, bukaan aperture/diafragma kamera yang kecil juga berpengaruh pada gelapnya exposure foto.

Apa itu depth of field?

Sederhananya, depth of field atau juga biasa disebut DoF atau bokeh adalah efek tidak fokus yang dihasilkan oleh jarak antara lensa, objek utama, dan background foto atau objek lain, yang sangat dipengaruhi oleh bukaan diafragma kamera.

Yang harus kamu tahu tentang bagaimana bukaan diafragma kamera dapat memengaruhi depth of field adalah: semakin lebar bukaan diafragma (f/2), semakin blur/tidak fokus depth of field-nya, dan semakin sempit bukaan diafragma (f/22), semakin tajam pula depth of field-nya.

diafragma kamera
Perbandingan foto dengan bukaan diafragma yang berbeda. Foto kiri dengan aperture f/2, sementara foto kanan f/16

Kegunaan masing-masing nilai angka bukaan diafragma kamera

Hal pertama yang harus dipahami adalah bahwa pada dasarnya dalam fotografi tidak ada aturan khusus tentang berapa angka aperture yang harus kamu gunakan, semuanya kembali lagi kepada si fotografer, apakah dia mau memberikan kesan tertentu pada fotonya, atau dia mau mengambil foto setajam seperti aslinya.

Namun bagi pemula, tidak ada salahnya mengikuti pola-pola yang sudah lebih dulu digunakan secara umum, sebelum akhirnya memiliki ‘sense’ sendiri dalam mengolah foto. Untuk itu, pedoman di bawah ini hanya sekadar alat bantu untuk menentukan aperture yang tepat digunakan pada situasi tertentu.

f/1.4

Bukaan sebesar ini bagus untuk mengambil foto pada kondisi minim cahaya, namun tetap perhatikan tingkat ketidakfokusan depth of field-nya. Sangat bagus untuk memberi efek soft focus.

f/2

Angka bukaan f/2 hampir memiliki fungsi yang sama seperti f/1.4, tidak terlalu banyak perbedaan. Hanya saja kamu lebih baik mengunakan aperture segini jika kamu menginginkan efek soft focus yang tidak terlalu soft.

f/2.8

Masih bagus digunakan dalam kondisi minim cahaya, namun bukaan diafragma segini akan lebih memberikan detail misalnya pada wajah. Lensa-lensa zoom yang bagus biasanya memiliki aperture maksimal sebesar ini.

f/4

Karena terkadang autofocus bisa keliru, maka angka bukaan aperture f/4 adalah batas aperture minimal yang dapat kamu gunakan ketika memotret orang pada kondisi cahaya yang cukup.

f/5.6

Ini adalah aperture maksimal yang akan kamu dapat saat lensa kit berada di focal length 55mm. Bukaan aperture f/5.6 bagus untuk foto dua orang, namun tidak terlalu bagus pada situasi minim cahaya. Jadi akan lebih baik jika ditambah dengan bounce flash.

f/8

Bukaan aperture f/8 bagus untuk mengambil foto sekelompok orang atau grup, karena aperture f/8 akan memberikan detail yang tinggi dalam jangkauan yang cukup lebar, sehingga wajah objek akan kelihatan semua.

f/11

Umumnya titik terfokus lensa ada pada angka f/11, jadi angka aperture f/11 sangat cocok untuk fotografi potrait.

f/16

Memotret di bawah terik matahari akan membutuhkan bukaan aperture yang kecil guna meminimalisir cahaya yang masuk. Angka bukaan diafragma f/16 sangat pas untuk itu.

f/22

Sangat bagus untuk fotografi landscape, karena dengan bukaan diafragma sekecil ini akan memberikan detail yang sangat tajam dengan jangkauan yang lebih luas.

Penutup

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, bahwa pola-pola di atas hanyalah alat bantu. Sekarang ketika kamu telah memahami bagaimana bukaan aperture atau diafragma kamera memengaruhi exposure foto, kamu bisa mulai ber-eksperimen dengan caramu sendiri. Selamat bersenang-senang! 😀

Leave a Reply