Lupa Mau Ngapain

2 min read

Saya termasuk tipe orang yang dalam situasi tertentu menjadi mudah bosan. Seperti kalau melakukan hal yang sama berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama. Misal, dalam seminggu, saya disuruh ngupas kacang setiap habis solat. Jangankan seminggu, baru tiga hari mungkin saya sudah bosan. Mending saya bikin tutorial ngupas kacang aja.

Mengupas kacang
Ngupas kacang

Atau misalkan pergi mengunjungi tempat baru yang sangat indah dan membuat saya merasa sangat excited untuk mengunjunginya terus, namun pasti akan ada titik di mana saya merasa tidak se-excited itu lagi, dan pada akhirnya bosan. Hampir setiap orang pasti akan begitu (saya mengatakan hampir, karena saya tidak bisa menjamin bahwa semua orang pasti begitu). Kecuali, hal tersebut ia lakukan karena ia cinta, atau memang sesuai dengan passion-nya.

cat-1402170_1280
Pusing pala berbi

Banyak hal dalam hidup saya yang sebetulnya saya tidak memiliki passion di dalamnya, tapi saya lakukan secara berulang-ulang, karena butuh, seperti menyapu, mandi, minta uang jajan. Namun saya selalu punya cara untuk menghindari rasa bosan dalam melakoninya.

Tapi tidak dengan lupa. Ini menjadi sesuatu yang menyebalkan buat saya karena tahu bahwa lupa adalah sesuatu yang berulang-ulang saya lakukan dalam hidup, dan saya tidak mempunyai cara tertentu untuk menghindarinya, bahkan butuh juga tidak, namun saya tidak bosan-bosan melakukannya.

Memang, seseorang cenderung akan bertambah suka ketika melakukan sesuatu yang sesuai dengan passionnya. Tapi, saya juga tidak mempunyai passion terhadap lupa. Apalagi cinta. Berdasarkan pengalaman saya, secara umum lupa terbagi menjadi dua: lupa habis ngapain, dan lupa mau ngapain.

Lupa mau ngapain
We have been in that moment…

Varian lupa yang sering saya alami adalah lupa mau ngapain. Ini terjadi secara repetitif dalam hidup saya bahkan dengan range waktu yang berdekatan. Jika kamu pernah, atau sering berada pada titik di mana kamu lupa mau ngapain, kamu nggak sendirian.

Pernah pada suatu hari yang sejuk nan cerah, angin bertiup sepoi-sepoi, dahan pohon menari mendayu-dayu, kicau burung bersahutan, saya disuruh beli bawang oleh ibu saya. Sejurus kemudian, saya membuat perencanaan matang dari rumah untuk pergi ke pasar, beli bawang, lalu pulang. Namun takdir berkata lain. Alih-alih menuju pasar, malah saya parkir di alfamart dan masuk. Sesampainya di dalam, saya langsung menuju ke kasir, dan bengong.

Mbak-mbak kasirnya juga bengong. Lalu dengan muka bingung mbak itu bertanya, “ada yang bisa dibantu, Mas?” Katanya ramah sembari memecah keheningan di antara kami.

“Em.. Anu, Mbak.. Indomaret sebelah mana ya?”

Nggaklah saya nggak nanya gitu.

Akhirnya daripada malu saya bilang aja, “pulsa Telkomselnya mbak yang 10ribu.”

Lalu melayanglah uang Rp12.500 buat beli pulsa yang padahal nggak butuh-butuh amat.

Fatal betul. Untung lupanya masuk ke alfamart, bukan ke dealer motor.

Berdasarkan info yang pernah saya baca di DetikHealth, lupa bisa saja terjadi karena beberapa sebab, yaitu stress, pengaruh alkohol atau narkoba, penyakit alzheimer, benturan kepala, kurang tidur, dan terlalu memikirkan banyak hal sekaligus.

Kemudian saya bertanya dan mengevaluasi diri, kenapa saya sering lupa. Narkoba dan alkohol, jelas bukan. Penyakit alzheimer, memang ada beberapa gejala yang mirip, tapi lebih banyak yang tidak. Benturan kepala, satu-satunya yang pernah membentur kepala saya hanyalah tugas kuliah. Kurang tidur, nah ini sangat mungkin, saya ini tukang tidur yang kurang tidur. Memikirkan banyak hal sekaligus, apalagi.

Dari analisis asal-asalan di atas, sebab yang paling memungkinkan terjadi pada saya adalah kurang tidur, dan memikirkan banyak hal sekaligus. Sok-sokan ingin multitasking, padahal emang procrastinating.

Oleh karenanya, saya menyusun beberapa tips, yang juga asal-asalan, untuk menghindari, atau setidaknya, meminimalisir potensi-potensi terjadinya lupa di kemudian hari. Karena tetap saja pada hakikatnya kita adalah manusia, yang 70% tubuhnya terbuat dari air yaitu makhluk tempatnya salah dan lupa.

  1. Tidur yang cukup. Kurangi begadang dan berusaha tidur lebih awal supaya bisa bangun lebih awal juga. Riset mengatakan, 9 dari 10 orang yang tidur awal kalau dibangunin akan bangun lebih awal pula.
  2. Membuat list pekerjaan dan mengurutkannya sesuai dengan skala prioritas. Yang nggak penting-penting dikerjain belakangan.
  3. Mengerjakan segala sesuatu yang ingin dikerjakan secara satu-persatu. Jangan mengerjakannya sekaligus, karena bukannya selesai semua, yang ada justru malah tidak fokus dan akhirnya hasilnya tidak maksimal.
  4. Kurang-kurangin lah.
  5. Never procrastinate. Ini penting jadi harus di-bold. Jangan pernah menunda-nunda apa yang bisa dikerjakan sekarang.
  6. Jangan lupa piknik.

Setelah menerapkan beberapa poin di atas, perlahan namun pasti lupa saya mulai berkurang. Kalaupun masih lupa, alhamdulillah setelah beberapa saat mengingat-ingat, akhirnya bisa ingat lagi. Ingat kalau saya lupa. Hahaha.

Itulah uniknya otak manusia. Ia bisa mengingat kejadian sepele yang terjadi belasan bahkan puluhan tahun yang lalu, tapi ia bisa juga lupa pada kejadian penting yang baru saja terjadi.

Sisi positifnya, dengan lupa saya jadi dapat ide untuk menulis. Iya, tulisan ini saya buat karena awalnya saya lupa mau nulis apa.

Leave a Reply