Konsep, Metode, dan Jenis-jenis Penelitian

Jenis penelitian – Penelitian dilakukan karena beberapa alasan, di antaranya adalah untuk memenuhi rasa penasaran manusia, untuk mencari solusi dari suatu permasalahan, untuk memperkaya ilmu pengetahuan, dan lain-lain.

Di antara tujuan-tujuan penelitian tersebut, jenis penelitian yang harus dilakukan pun berbeda-beda, tergantung kepada apa permasalahannya. Apa kamu sudah tahu, apa saja jenis penelitian dan bagaimana menentukan jenis penelitian yang tepat?

Yuk, ketahui 3 jenis penelitian beserta konsep dan metode penelitiannya.

A. Arti Penelitian

Secara umum penelitian adalah kajian terhadap suatu objek secara sistematis dan objektif untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik atas objek tersebut dan untuk mengembangkan prinsip dan teori tentang objek itu (Richards, Platt, dan Platt, 1993).

Ada tiga hal yang perlu dicermati berkenaan dengan pengertian di atas.

Pertama, penelitian memiliki objek. Objek tersebut dapat berupa benda, orang, tumbuhan, peristiwa, dan seterusnya.

Kedua, dalam mengkaji objek penelitian, peneliti menggunakan metode yang sistematis dan objektif. Sistematis berarti mengikuti tahap-tahap penelitian yang telah ditetapkan secara tertib, mulai dari menetapkan masalah penelitian hingga menarik simpulan. Objektif berarti berdasarkan fakta yang ada di lapangan yang dapat ditangkap oleh pancaindera, bukan berdasarkan perasaan atau kepentingan pribadi peneliti.

Ketiga, pengkajian terhadap objek penelitian dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik atas objek tersebut dibandingkan dengan sebelum dilakukannya penelitian. Di samping itu, penelitian juga dimaksudkan untuk mengembangkan prinsip-prinsip dan teori tentang objek tersebut.

 B. Jenis-jenis Penelitian

1. Berdasarkan pada tujuannya

Menurut tujuan yang hendak dicapai, penelitian dapat dibedakan menjadi lima jenis, yaitu penelitian “formal”, penelitian evaluasi, penelitian kebijakan, penelitian tindakan, dan penelitian pengembangan. Berikut ini adalah penjelasan singkat dari masing-masing jenis penelitian tersebut.

a. Penelitian “formal” (formal research)

Yaitu penelitian yang dilakukan dengan tujuan memverivikasi (untuk penelitian kuantitatif) dan/atau mengembangkan (untuk penelitian kualitatif) teori. Penelitian sebagaimana didefinisikan di atas (Bagian A) tergolong penelitian jenis ini.

b. Penelitian evaluasi (evaluation research)

Yaitu penelitian yang dilakukan terhadap suatu objek atau kegiatan dengan tujuan memberikan penilaian (judgement) apakah objek atau kegiatan tersebut baik atau buruk berdasarkan kriteria tertentu. Kalau suatu program yang sedang berjalan dinilai baik, barangkali program tersebut dapat diteruskan; namun apabila tidak baik, mungkin program tersebut akan dihentikan.

c. Penelitian kebijakan (policy research)

Yaitu penelitian yang dilakukan untuk memberikan sejumlah alternatif kepada pihak-pihak tertentu (biasanya para pengambil kebijakan) atas suatu masalah tertentu, seperti penertiban pedagang kaki lima. Setiap alternatif disertai dengan kelebihan dan kekurangannya, sehingga ketika pengambil kebijakan memilih salah satu alternatif tersebut Penelitian kebijakan biasanya didahului oleh penelitian evaluasi.

d. Penelitian tindakan (action research)

Yaitu penelitian yang dilakukan dengan tujuan memecahkan masalah dan/atau meningkatkan kualitas suatu sistem. Masalah atau sistem tersebut lazimnya bersifat situasional dan kontekstual; dan oleh karena itu, hasilnya tidak dapat serta merta diterapkan dalam situasi dan konteks yang lain.

e. Penelitian pengembangan (development research)

Yaitu penelitian yang dilakukan untuk menciptakan suatu model, baik yang berupa perangkat keras (hardware), seperti alat peraga, alat permainan, dan alat tulis; maupun yang berupa perangkat lunak (software), seperti kurikulum, pedoman pembelajaran dengan pendekatan tertentu, dan pedoman penilaian.

2. Berdasarkan pada jumlah variable dan sifat hubungan antarvariabel

Berdasarkan pada jumlah variabel dan sifat hubungan antarvariabel tersebut, penelitian dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu penelitian deskriptif, penelitian asosional, dan penelitian intervensi. Berikut ini adalah penjelasan singkat dari masing-masing jenis penelitian tersebut.

a. Penelitian deskriptif (descriptive research)

Yaitu penelitian yang mengkaji hanya satu variable secara objektif, sistematik, dan komprehensif tanpa menghubungkannya dengan variable lain.

Contohnya adalah survey tentang kemampuan membaca teks bahasa Inggris siswa SMU Kota Surakarta. Variabel penelitian tersebut adalah kemampuan membaca teks bahasa Inggris. Yang lazimnya dideskripsikan antara lain adalah nilai tertinggi, nilai terendah, nilai rata-rata, simpangan baku, distribusi frekuensi, dan penyajian data dalam bentuk diagram.

b. Penelitian asosional (associational research)

Yaitu penelitian yang mengkaji hubungan dua variable atau lebih yang tidak bersifat kausal. Contohnya adalah hubungan antara motivasi belajar dan prestasi belajar bahasa Inggris. Variabel penelitiannya adalah motivasi belajar bahasa Inggris (X) dan prestasi belajar bahasa Inggris (Y).

c. Penelitian intervensi (intervention research)

Yaitu penelitian yang mengkaji hubungan dua variable atau lebih yang bersifat kausal. Contohnya adalah penelitian tentang pengaruh pupuk terhadap kesuburan tanaman (dalam suatu penelitian eksperimen). Dua variable dalam penelitian itu adalah pemberian pupuk (X) dan kesuburan tanaman (Y).

3. Berdasarkan pada paradigmanya

Berdasarkan pada paradigmanya, penelitian dibedakan menjadi dua jenis, yaitu penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Berikut ini adalah penjelasan singkat dari masing-masing penelitian tersebut.

a. Penelitian kuantitatif (quantitative research)

Penelitian kuantitatif yaitu penelitian yang didasarkan pada paradigma positivisme atau paradigma ilmiah. Beberapa karakteristik dari penelitian kuantitatif ini adalah sebagai berikut:

  1. objek yang diteliti berupa produk;
  2. sebagian besar datanya berupa angka;
  3. ketika mengumpulkan data, peneliti tidak harus berhubungan dengan sumber data;
  4. data-data yang telah terkumpul dianalisis secara deduktif;
  5. hasil penelitian dapat digeneralisasikan tanpa terikat pada konteks;
  6. penelitian ini bersifat objektif, bebas dari nilai (values).

b. Penelitian kualitatif (qualitative research)

Penelitian kualitatif yaitu penelitian yang didasarkan pada paradigma pascapositivisme atau paradigma alamiah. Beberapa karakteristik dari penelitian kualitatif ini adalah sebagai berikut:

  1. objek yang diteliti berupa proses dan nilai (values);
  2. sebagian besar datanya berupa kata-kata;
  3. ketika mengumpulkan data, peneliti berinteraksi dengan orang-orang yang menjadi sumber data;
  4. data-data yang telah terkumpul dianalisis secara induktif;
  5. hasil penelitian tidak dapat digeneralisasikan tanpa memperhatikan konteks;
  6. penelitian ini bersifat subjektif dan terikat dengan nilai (values).

Penelitian yang akan dibahas lebih lanjut dalam tulisan ini adalah penelitian “formal” dengan pendekatan kuantitatif.

Baca juga: Contoh rumusan masalah makalah

C. Penelitian Ilmiah

Penelitian yang dimaksudkan untuk memverifikasi dan/atau mengembangkan teori harus memenuhi kriteria keilmiahan sehingga teori yang dikembangkannya itu dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan. Penelitian yang demikian itu disebut dengan penelitian ilmiah.

Kerlinger (1990: 17) mendefinisikan penelitian ilmiah sebagai berikut: “Penelitian ilmiah adalah penyelidikan yang sistematis, terkontrol, empiris, dan kritis tentang fenomena-fenomena alami dengan dipandu oleh teori dan hipotesis tentang hubungan yang diduga ada di antara fenomena-fenomena itu.”

Beberapa penjelasan perlu diberikan berkenaan dengan definisi di atas.

Pertama, penyelidikan yang sistematis adalah penyelidikan yang mengikuti langkah-langkah tertentu yang telah ditetapkan sebelumnya sehingga penyelidikan tersebut dapat berjalan secara efisien.

Konsep sistematis tersebut menunjukkan bahwa kegiatan penelitian terdiri atas sejumlah langkah yang harus diikuti secara ketat.

Secara garis besar, penelitian ilmiah mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: (1) perumusan masalah, (2) penyusunan kerangka berpikir secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah, (3) pengajuan hipotesis, (4) pengujian hipotesis, dan (5) penarikan simpulan (Suriasumantri, 1999: 128).

Kedua, penyelidikan yang terkontrol adalah penyelidikan yang dilakukan dengan memfokuskan hanya pada variable atau variable-variabel (yang lazim disebut variable bebas) yang menyebabkan terjadinya suatu fenomena (yang lazim disebut variable terikat) dan mengesampingkan atau mengontrol variable-variabel lainnya (yang lazim disebut variable ekstra), yang tidak diselidiki.

Hal itu didasarkan pada kekhawatiran bahwa apabila tidak dikontrol secara ketat variable-variabel ekstra tersebut ikut mempengaruhi variable terikat.

Apabila ini terjadi, pengaruh variable bebas terhadap variable terikat tidak teridentifikasi secara jelas karena terkontaminasi oleh hadirnya variable-variabel ekstra itu. Pengontrolan terhadap variable-variabel ekstra biasanya dilakukan dalam penelitian eksperimen.

Ketiga, penyelidikan yang empiris adalah penyelidikan yang didasarkan pada fakta-fakta objektif yang dapat diamati di lapangan.

Apabila, misalnya, seorang peneliti berdasarkan kajian teorinya mengajukan hipotesis bahwa “makin tinggi IQ orang makin tinggi pula prestasi belajarnya”, ia harus menghadapkan hipotesisnya itu dengan realitas objektif.

Hipotesis tersebut dapat diterima apabila fakta-fakta objektif di lapangan menunjukkan bahwa orang yang IQ-nya tinggi cenderung memiliki prestasi yang bagus.

Sebaliknya, hipotesis tersebut ditolak apabila fakta-fakta di lapangan tidak menunjukkan kecenderungan yang konsisten atau bahkan menunjukkan gejala yang sebaliknya.

Keempat, penyelidikan yang kritis adalah penyelidikan yang dilakukan dengan penuh pemikiran yang skeptis.

Peneliti senantiasa melakukan pengujian dan penilaian terhadap penelitiannya secara cermat, baik pada tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, maupun tahap akhir penelitian sehingga ia memperoleh keyakinan bahwa apa yang dilakukannya itu benar-benar dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Ia tidak segan-segan, misalnya, mempertanyakan kebenaran sejumlah teori yang menjadi landasan menyusun kerangka berpikir agar ia dapat mengajukan hipotesis yang tepat.

Kelima, penelitian ilmiah senantiasa dipandu oleh teori-teori yang relevan dengan topik yang sedang dikaji. Hipotesis yang diajukan oleh peneliti, yang akan diverifikasi di lapangan, harus didasarkan pada teori-teori yang kredibel.

Dengan demikian, penelitian ilmiah merupakan perpaduan antara rasionalisme (teori) dan empirisme (fakta di lapangan). Dengan kata lain, penelitian ilmiah memadukan cara berpikir deduktif dan induktif.

Berpikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah terkumpul sebelumnya.

Penjelasan yang bersifat rasional tersebut, dengan kriteria kebenaran koherensi, tidak memberikan simpulan yang bersifat final, melainkan hanya terbatas pada hipotesis.

Oleh karena itu, dipergunakan pula cara berpikir induktif yang berdasarkan kriteria kebenaran korespondensi. Teori korespondensi menyatakan bahwa suatu pernyataan (seperti hipotesis, misalnya) dapat dianggap benar apabila terdapat fakta-fakta empiris yang mendukung pernyataan (hipotesis) itu (Suriasumantri, 1999: 120).

Leave a Reply