Panduan Cara Membuat Makalah dan Contoh Rumusan Masalahnya

8 min read

Contoh rumusan masalah – Ketika kita ingin membuat makalah, menyusun proposal, ataupun menulis karya ilmiah, kita tidak bisa untuk tidak menyertakan poin rumusan masalah di dalamnya, karena poin ini memiliki andil yang penting dalam menguji keilmiahan dari sebuah tulisan.

Maka dari itu, penting untuk melengkapi setiap poin di dalam kaidah penulisan ilmiah, karena jika ada poin yang kurang, misalnya tidak ada rumusan masalah, maka sebuah tulisan tidak akan dikategorikan sebagai penulisan ilmiah, meski data-data yang digunakan 100% valid.

Bagi mereka yang telah terbiasa dengan penulisan ilmiah, membuat laporan penelitian, menyusun proposal penelitian, dan lain sebagainya, tentu membuat rumusan masalah sudah bukan hal yang sulit lagi.

Namun, bagi mereka yang tidak terbiasa, terlebih lagi bagi yang masih belajar dan baru pertama kali membuat karya ilmiah, hal ini bukanlah hal yang umum sehingga masih membutuhkan panduan untuk membuat rumusan masalah.

Sebelum kita masuk ke pembahasan contoh rumusan masalah yang baik dan benar, mari sejenak kita kaji terlebih dahulu mengenai pengertian rumusan masalah.

Pengertian Rumusan Masalah Penelitian Secara Umum

contoh rumusan masalah

Secara umum, rumusan masalah adalah sebuah poin singkat yang berupa beberapa poin pertanyaan yang nantinya pertanyaan-pertanyaan pada rumusan masalah itu akan dijawab di dalam pembahasan utama dari sebuah karya tulis.

Rumusan masalah terletak di bagian awal dari sebuah makalah atau proposal penelitian, biasanya ditulis sebagai poin kedua setelah latar belakang masalah dari makalah atau proposal penelitian tersebut.

Pertanyaan seperti apa yang digunakan sebagai rumusan masalah? Tentu bukan sembarang pertanyaan, melainkan pertanyaan-pertanyaan penting yang menjadi alasan pemilihan tema dari tulisan ilmiah. Sehingga, solusi dari pertanyaan tersebut dapat dipikirkan dan ditentukan secepat dan setepat mungkin.

Pengertian Rumusan Masalah Penelitian Menurut Para Ahli

contoh rumusan masalah

1. Drs. Pariata Westra, S.H.

Pariata Westra (1981 : 263) berpendapat bahwa suatu masalah yang terjadi apabila seseorang berusaha mencoba suatu tujuan atau percobaannya yang pertama untuk mencapai tujuan itu hingga berhasil.

2. Prof. Drs. Sutrisno Hadi Notowidagdo, M.A.

Menurut Sutrisno Hadi (1973 : 3), rumusan masalah adalah pertanyaan dari sebuah kejadian (latar belakang). Ia mengatakan, “Masalah adalah kejadian yang menimbulkan pertanyaan kenapa dan kenapa.”

3. Drs. Hariwijaya, dan Triton PB., S.Si., M.Si.

Dalam bukunya, Pedoman Penulisan Skirpsi Dan Tesis, (Nyutran: Tugu Publisher, 2005), Drs. Hariwijaya dan Triton PB. menjelaskan bahwa rumusan permasalahan dibuat berdasarkan pada masalah pokok yang terdapat pada bagian latar belakang masalah. Masalah-masalah yang hendak dikemukakan pada bagian ini dirumuskan dalam kalimat pertanyaan yang singkat dan sederhana.

4. P. Joko Subagyo, S.H.

Menurut Joko Subagyo, dalam bukunya, Metode Penelitian Dalam Teori Dan Praktek, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2004), dalam menentukan rumusan masalah, sebaiknya kita memperhatikan ketentuan-ketentuan dibawah ini:

  1. Dirumuskan dalam bentuk pertanyaan.
  2. Dirumuskan dalam kalimat yang sederhana.
  3. Rumusan masalah harus singkat, padat, dan tidak menimbulkan kerancuan dalam pengertian.
  4. Mencerminkan keinginan penulis dalam melakukan penelitian.
  5. Tidak mempersulit dalam pencarian data lapangan.
  6. Rumusan masalah dapat dipakai sebagai rumusan hipotesis.
  7. Rumusan masalah dapat direfleksikan ke dalam judul.

5. Drs. Sumadi Suryabrata, B.A., M.A., Ed.S., Ph.D.

Hampir senada dengan Joko Subagyo, Drs. Sumadi mengatakan dalam bukunya, Metodelogi Penelitian, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998), rumusan masalah adalah panutan dalam sebuah penelitian, dengan ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi. Di antaranya:

  1. Dirumuskan dalam bentuk kalimat tanya.
  2. Rumusan masalah harus padat dan jelas isinya.
  3. Memberi petunjuk tentang mungkinnya mengumpulkan data guna menjawab pertanyaaan yang terkandung dalam rumusan masalah itu.

6. Purnomo Setiady Akbar, M.Pd., dan DR. Husaini Usman, M.Pd.

Dalam bukunya, Metodelogi Penelitian Sosial, (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), keduanya mengatakan, “Rumusan masalah ialah suatu usaha untuk menyatakan secara tersurat pertanyaan-pertanyaan penelitian apa saja yang spesifik dan perlu dijawab.”

Fungsi Rumusan Masalah

contoh rumusan masalah

Setelah mengetahui apa itu rumusan masalah, sekarang mari kita berlanjut ke pembahasan selanjutnya, ini dia bahasan yang ditunggu-tunggu.. Eits, tapi sebelum kita masuk kepada contoh rumusan masalah, kita juga harus mengetahui apa sih fungsi dari rumusan masalah itu sendiri?

1. Rumusan masalah merupakan penyebab dilaksanakannya penelitian

Iya, tanpa adanya rumusan masalah, kegiatan penelitian tidak akan berjalan secara terstruktur. Maksudnya begini, rumusan masalah dalam suatu makalah itu berfungsi sebagai penyokong dari sebuah kegiatan penelitian, apakah penelitian tersebut jadi dilaksanakan atau tidak.

2. Rumusan masalah sebagai pedoman dalam penelitian

Agar penelitan yang dilakukan tetap terfokus dan terarah sesuai dengan tujuan penelitiannya, maka keberadaan dari sebuah rumusan masalah adalah wajib sebelum berangkat ke lapangan (untuk penelitian lapangan).

Pun begitu juga dengan penelitian berbasis kepustakaan, ini akan menghemat waktumu untuk tidak terlalu banyak mengambil referensi yang tidak tepat.

3. Rumusan masalah membantu mempertimbangkan jenis data

Dalam menentukan jenis data yang akan digunakan di dalam penelitian, maka diperlukan variabel-variabel tertentu yang sesuai antara data-data yang tersedia di lapangan, dengan tujuan penelitian yang dirumuskan di dalam rumusan masalah.

Apakah variabel-variabel tersebut cocok, memiliki kesamaan, dan cukup kuat untuk dapat diperhitungkan sebagai data penelitian yang selanjutnya akan diolah.

4. Rumusan masalah mempermudah menentukan populasi dan sampel

Ini akan sangat memudahkan peneliti dalam menentukan apa yang akan menjadi populasi dalam pengambilan data penelitian, dan apa saja yang akan menjadi sampel di dalamnya. Berdasarkan apa? Tentu saja berdasarkan rumusan masalah.

See? Sekarang kita sudah mengerti mengapa rumusan masalah ini penting untuk dibuat terlebih dahulu. Intinya, membuat rumusan masalah tidak akan mempersulitmu dalam melakukan penelitian.

Memang awalnya kita harus selektif dalam membuat pertanyaan-pertanyaan untuk rumusan masalah. Hei, tapi itu hanya di awalnya saja, kok. Ke sananya justru rumusan masalah akan memudahkanmu!

Jenis-jenis Rumusan Masalah

contoh rumusan masalah

Pak Purnomo Setiady dan Pak Husaini Usman mengatakan di dalam bukunya (yang telah disebutkan di atas) bahwa rumusan masalah dibedakan menjadi tiga, yaitu rumusan masalah deskriptif, rumusan masalah komparatif, dan rumusan masalah asosiatif.

Mari kita kupas ketiga jenis rumusan masalah tesebut satu persatu.

1. Rumusan Masalah Deskriptif

Rumusan masalah deskriptif artinya di dalam rumusan masalah tersebut berisi pertanyaan mengenai penguraian dari sebuah variabel yang berdiri sendiri (variabel mandiri). Dalam membuat rumusan masalah jenis ini, si peneliti tidak membandingkan atau mencari korelasi antara satu variabel dengan variabel yang lain.

Contoh rumusan masalah deskriptif

  • Bagaimana kinerja Kepala Daerah A di Provinsi Buckelburry selama tahun 2016-2017?
  • Seberapa tinggi antusiasme masyarakat dalam menyambut pemilu 2019?
  • Seberapa efektifkah penerapan peraturan daerah tentang larangan merokok di terminal Burkina Faso?
  • Seberapa besar manfaat perpustakaan keliling bagi masyarakat desa Puddletown?

2. Rumusan Masalah Komparatif

Berbeda dengan jenis rumusan masalah deskriptif yang bersifat menanyakan keberadaan (menjelaskan) sebuah variabel mandiri, dalam rumusan masalah komparatif, si penulis akan membandingkan keberadaan sebuah variabel dengan variabel-variabel dan sampel-sampel yang lain.

Contoh rumusan masalah komparatif

  • Apakah terdapat perbedaan antara kinerja pegawai negeri dengan pegawai swasta di RSUD Normansland kota Wiltshire? (Perbandingan satu variabel dengan dua sampel)
  • Apakah ada perbedaan kepuasan dan ketidakpuasan masyarakat terhadap pelayanan kantor pajak pusat dengan kantor pajak daerah di kota London? (Dua variabel dengan dua sampel)
  • Adakah perbedaan antara tingkat kerugian yang dialami pedagang ritel dan pedagang jasa pada saat inflasi? (Satu variabel dengan dua sampel)

3. Rumusan Masalah Asosiatif

Asosiatif artinya bersifat saling memiliki hubungan. Rumusan masalah asosiatif artinya rumusan masalah yang berisi pertanyaan yang sifatnya menghubungkan antara satu variabel dengan variabel-variabel yang lainnya. Di dalam rumusan masalah asosiatif sendiri terdapat tiga bentuk hubungan, yaitu hubungan simetris, hubungan kausal, dan hubungan interaktif.

a. Hubungan Simetris

Hubungan simetris adalah sebuah hubungan yang terjadi antara dua buah variabel atau lebih, yang mana variabel yang satu tidak memengaruhi variabel yang lain. Contoh rumusan masalah asosiatif dengan hubungan simetris:

  • Adakah hubungan antara tanaman yang disiram tiap hari dengan tanaman yang tidak disiram tiap hari?
  • Adakah hubungan antara berat badan dan tinggi badan seekor jerapah terhadap asupan nutrisi yang didapatkannya?
  • Adakah hubungan antara kekuasaan dengan tanggung jawab seorang pemimpin?
  • Adakah keterkaitan antara prestasi seorang guru dengan banyaknya pengalaman mengajar?

b. Hubungan Kausal

Hubungan kausal adalah sebuah hubungan yang terjadi antara dua variabel atau lebih, namun hubungan tersebut didasari atas hubungan kausalitas atau hubungan sebab-akibat. Contoh rumusan masalah asosiatif dengan hubungan kausal:

  • Adakah keterkaitan antara jenis pakan sapi dengan kualitas susu yang dihasilkan?
  • Adakah hubungan antara kenaikan gaji dengan tingkat daya beli masyarakat?
  • Adakah keterkaitan antara tingkat kesejahteraan masyarakat dengan persebaran penduduk?
  • Adakah hubungan antara topografi wilayah dengan persebaran bahasa yang digunakan pada suatu daerah?
  • Adakah hubungan antara durasi bermain game seorang mahasiswa dengan prestasinya?

c. Hubungan Interaktif

Hubungan interaktif adalah hubungan secara dua arah yang terjadi antara dua variabel atau lebih karena adanya timbal-balik di antara variabel-variabel tersebut. Contoh rumusan masalah asosiatif dengan hubungan interaktif:

  • Adakah hubungan antara prestasi seseorang dengan beasiswa yang didapatkan?
  • Adakah hubungan antara penggunaan barang elektronik dengan kenaikan tagihan listrik?
  • Adakah hubungan antara ketepatan waktu pengumpulan deadline dengan keramahan atasan?
  • Adakah hubungan antara kedisiplinan mahasiswa dengan motivasi belajarnya?
  • Dan sebagainya.

Kriteria Pemilihan Masalah Penelitian yang Baik

contoh rumusan masalah

 

Pada kenyataannya, dalam menentukan masalah penelitian, kita tidak dapat menggunakan seluruh permasalahan-permasalahan yang ada di sekitar kita sebagai masalah penelitian yang akan dibahas pada latar belakang dan rumusan masalah.

Mengenai hal ini, Drs. Tatang M. Amirin, dalam bukunya Menyusun Rencana Penelitian (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1995), mengatakan bahwa ada syarat-syarat rumusan masalah yang baik yang harus dipenuhi, yaitu:

1. Memiliki manfaat

Artinya, masalah tersebut jika diteliti akan mempunyai arti penting, baik bagi perkembangan ilmu pengetahuan, maupun bagi kehidupan manusia sehari-hari. Karena penelitian yang didasari masalah yang tidak bermanfaat hanya akan menghabiskan biaya.

2. Dapat digunakan dalam waktu yang lama

Kesimpulan dari penelitian tersebut mempunyai daya simpul yang cukup lama, artinya hasil dari penelitian dapat dipergunakan dan dimanfaatkan tidak hanya ketika penelitian tersebut dilakukan, melainkan juga dapat digunakan bertahun-tahun setelahnya (datanya masih valid).

3. Memiliki daya tarik yang kuat

Maksudnya, masalah penelitian tersebut memiliki daya tarik yang kuat dan mengundang rasa penasaran baik itu bagi si peneliti, maupun bagi pembaca.

5. Memungkinkan untuk diteliti

Ini adalah syarat penting dalam memilih masalah penelitian. Artinya, secara operasional, masalah tersebut memungkinkan untuk diteliti (baik itu dari segi prosedural, segi metodologi, maupun dari segi ketersediaan datanya di lapangan).

Cara Membuat Rumusan Masalah Penelitian yang Baik dan Benar

contoh rumusan masalah

Karena kali ini kita membahas contoh rumusan masalah, ada baiknya kita juga belajar bagaimana cara membuat rumusan masalah yang benar, agar tulisan yang akan kita buat tetap berkualitas dan sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah.

1. Tulis rumusan masalahmu sendiri

Dalam pedoman penulisan makalah karya ilmiah, rumusan masalah adalah poin yang wajib ada. Cara paling mudah dan efektif adalah dengan membuat rumusan masalah sendiri.

Beberapa referensi menyarankan untuk langsung membahas permasalahan yang ditemui, namun di dalam pedoman penulisan makalah yang lain menyarankan untuk membuat poin latar belakang masalah terlebih dahulu, supaya penulis lebih mudah memahami alurnya.

Dengan begitu, penulis akan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai permasalahan yang sedang dihadapi, sehingga dalam membuat rumusan masalah akan lebih padat dan tepat.

2. Buatlah pernyataan yang dapat dipertanggungjawabkan

Dalam membuat makalah dan penulisan ilmiah lainnya, apapun metode penulisan yang kamu gunakan, tetap masukkan data dan fakta yang kredibel. Di samping itu, tak kalah pentingnya juga untuk menjaga agar jangan sampai ada unsur plagiarisme di dalam makalah dan karya tulismu.

3. Pikirkan solusi-solusi konkret

Ini ada kaitannya dengan poin pertama. Ketika kamu menulis rumusan masalah dengan membuat latar belakang permasalahannya terlebih dahulu, kamu akan memiliki gambaran mengenai permasalahan yang akan dibahas.

Di situlah pikiranmu akan bekerja untuk mencari dan memikirkan solusi seperti apa yang terbaik dan yang paling tepat digunakan dalam konteks permasalahan penelitianmu. Kamu bisa memikirkan lebih dari satu solusi, asalkan solusi-solusi tersebut worth it.

4. Beri alasan atas solusi yang kamu tulis

Nah, inilah yang menjadi penilaian atas solusi-solusi yang kamu berikan, pada poin ini kamu harus mempertimbangkan apakah solusi yang kamu ajukan itu sudah tepat atau belum. Kalau belum, pikirkan kembali solusi yang lebih baik.

Dengan memberi alasan atas solusi yang kamu buat, kamu juga akan bisa menentukan solusi mana yang memiliki skala priortas yang lebih tinggi dibanding solusi-soulusi lainnya.

5. Buat kesimpulan antara masalah dan solusi

Setelah kamu mengelompokkan dan mempertimbangkan solusi-solusi atas masalah penelitian yang berseliweran di kepalamu, sekarang saatnya kamu menghubungkan antara masalah penelitian dan setiap solusi yang kamu ajukan.

Poin ini juga akan mem-filter mana solusi-solusi yang dapat diterapkan dan mana solusi yang tidak dapat diterapkan. Sehingga, ini akan membuatmu semakin yakin bahwa solusi yang kamu ajukan adalah yang terbaik.

6. Selalu ingat kaidah 5W+1H

Salah satu kaidah penulisan ilmiah, dikutip dari Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah IPB, adalah menjaga penulisan agar tetap ringkas dan padat. Tidak seperti beberapa tahun sebelumnya yang mewajibkan penulisan karya ilmiah harus memenuhi standar jumlah halaman tertentu.

Salah satu metode untuk membahas masalah penelitian secara menyeluruh adalah dengan metode 5W+1H. Dengan metode ini, kita akan dapat memindai sebuah permasalahan dengan memanfaatkan pertanyaan-pertanyaan yang meliputi apa (what), di mana (where), siapa (who), kapan (when), mengapa (why), dan bagaimana (how).

7. Jangan lupa koreksi kesalahan

Percayalah, tidak ada orang yang dapat menulis makalah, proposal penelitian, atau karya tulis ilmiah lainnya dengan sempurna hanya dengan satu buah draft penulisan saja. Bahkan ketika kamu yakin tulisanmu telah selesai, saat kamu membacanya lagi, pasti kamu menemukan sesuatu yang perlu dioreksi.

Sebelum kamu menyerahkan atau bahkan mem-publish hasil tulisanmu kepada yang bersangkutan, selalu dan selalu lakukan pengoreksian. Cara pertama yang harus kamu lakukan adalah dengan membacanya sendiri, setelah itu mintalah temanmu membacanya.

Periksa secara teliti apakah ada kesalahan penulisan ejaan, tanda baca, penggunaan huruf, typo, dan sebagainya. Periksa juga struktur dan kelogisan bahasa setiap kalimat, apakah ada kalimat yang ambigu atau tidak, kalau ada, segera lakukan perbaikan.

Kalau masih ada yang kurang jelas, silakan simak video di bawah ini.

Penutup

Setelah mengulas secara lengkap tentang contoh rumusan masalah, kini sampailah kta pada kesimpulan dari postingan ini. Sampai di sini, kita telah mengetahui bahwa rumusan masalah adalah poin yang penting di dalam penulisan ilmiah.

Karena pentingnya rumusan masalah itulah, merupakan sebuah hal yang wajib bagi seorang peneliti, praktisi, mahasiswa, dan pembelajar pada umumnya untuk dapat memahami bagaimana cara membuat rumusan masalah yang baik dan benar dan sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah, agar apa yang dituliskan dapat dengan mudah dimengerti oleh pembaca.

Kalau kamu punya tips tertentu mengenai cara menulis makalah ataupun contoh rumusan masalah, silakan sampaikan lewat kolom komentar di bawah. Terima kasih telah berkunjung, mudah-mudahan bermanfaat!

Leave a Reply