Berkendara di Atas Awan: Sebuah Catatan Perjalanan

2 min read

Jalan Daendels

Halah sebuah catatan perjalanan, kayak apaan aja.

Belum lama ini, tepatnya tanggal 18 Agustus, saya melakukan perjalanan lintas provinsi dari Purwokerto menuju Magetan. Sebetulnya jaraknya tidak terlalu jauh, sih. Kalau di Google Maps cuma 326 kilometer-an. Cuma lima jam perjalanan menggunakan kereta api. Tapi, kali ini kendaraan yang saya gunakan adalah motor Suzuki Smash buatan tahun 2003, yang artinya, perjalanan dekatpun akan menjadi jauh, dan perjalanan jauh menjadi sangat jauh.

Peta Jawa Tengah Jawa Timur
Rute perjalanan

Awalnya saya tidak begitu yakin akan benar-benar melakukan perjalanan ini, mengingat kondisi motor yang sudah tua dan kurang terawat. Tapi karena daripada motor saya nggak terpakai di Purwokerto, dan saya juga membutuhkannya untuk wara-wiri di Magetan, akhirnya saya bawa aja.

Mengirim motor lewat jasa pengiriman seperti KA Logistik juga sudah saya pertimbangkan. Tapi hasilnya negatif. Alasannya selain karena harga pengiriman yang mahal, yaitu sekitar 300-350 ribu, saya juga harus membeli lagi tiket kereta untuk perjalanan saya yang harganya di atas 150 ribuan semua. Ditambah lagi, ongkos ojek dari stasiun ke lokasi asrama yang nggak kalah mahalnya. (Jauh, bro)

Demi mengurangi risiko kenapa-napa di jalan, saya melakukan beberapa perbaikan pada motor saya. Mengecek kondisi mesin, sistem kelistrikan, dan kelengkapan seperti spion dan surat-surat itu wajib dilakukan. Tak lupa, pastikan kondisi fisik dan dompet juga harus dalam keadaan prima.

Setelah merasa semuanya beres dan aman, saya berangkat sore harinya. Kalau tidak salah waktu menunjukkan sekitar jam 05.30 sore. Bismillahirrahmanirrahim. Tanpa pengetahuan tentang rute jalan yang harus dilalui, saya meninggalkan kota Purwokerto. Hanya mengandalkan feeling, Google Maps, dan mulut untuk bertanya.

Karena saya mengendarai motor yang sudah cukup berumur, maka tidak bisa saya paksakan untuk sampai tujuan dalam sekali jalan. Paling tidak harus mengistirahatkan mesin tiap tiga sampai empat jam sekali. Lalu saya membagi rute menjadi empat bagian: Purwokerto-Kebumen, Kebumen-Jogja, Jogja-Solo, dan Solo-Magetan.

Purwokerto-Kebumen

Sebetulnya saya sudah agak hapal jalan kalau cuma ke Kebumen. Yaaa.. terhitung sering lah kalau main-main ke pantainya. Saya tidak menemukan kendala yang berarti sepanjang perjalanan melewati jalur ini. Paling cuma lapar aja. Begitu sampai di Sumpiuh, saya berhenti sejenak untuk solat dan makan, istirahat sebentar, lalu gas lagi.

Gas LPG
Gas lagi

Dari Sumpiuh (Banyumas), perjalanan berlanjut ke Kebumen melewati kecamatan Tambak, Gombong dan Sruweng. Karena waktu itu malam hari, saya tidak bisa mengingat persis jalannya. Mungkin karena saya biasanya lewat siang hari. Jadi saya ngikutin bus-bus tujuan Jogja aja.

Kebumen-Jogja

Alternatif jalur untuk menuju Yogyakarta ada dua: lewat Kutoarjo, atau lewat Purworejo. Karena hari sudah cukup larut dan jalanan sepi, saya memutuskan untul lewat jalur Daendels, yang kalau di peta cuma lurus saja dari Kebumen sampai Kulonprogo.

Jalan Daendels
Jalan Daendels pada siang hari, pas malam nggak sempat foto

Sesampainya di daerah Kutoarjo, sinyal mendadak hilang. Memang sepertinya bukan di daerah kota, jadi saya pikir wajarlah. Dengan sok tahu tingkat tinggi saya ngikutin jalan aja. Penerangan jalan sudah tidak ada. Kendaraan yang lewatpun mulai sepi. Lama-kelamaan saya cuma sendiri. Jauh di depan dan belakang tak ada lampu kendaraan yang terlihat. Malam makin gelap. Udara makin dingin. Gerimis pula. Duh, ngiyup di mana ini, batin saya. Rumah penduduk juga nggak ada. Di situ kadang saya merasa mbuh.

Singkat kata, sampailah saya di jalan yang lurus. Tapi bukan sirotol mustaqim. Melainkan Jalan Daendels. Jalannya memang cuma lurus saja sejauh berkilo-kilometer. Agak jauh di sebelah kanan ada Samudera Hindia, di sebelah kiri ada jajaran perbukitan kapur, ada beberapa rumah warga meski jarang-jarang. Jalannya lurus, gelap, masih tidak ada penerangan, dan banyak serangga. Beberapa ada yang masuk ke mulut, beberapa masuk lubang hidung, dan beberapa mati nabrak visor helm. Saya nggak tahu serangga apa itu.

Serangga mati nabrak mobil
Kurang lebih seperti ini ilustrasinya…

Perlahan tapi pasti, jalanan mulai terang pertanda ada peradaban manusia. Waktu itu pukul 23.00, posisi saya sudah sampai di ujung Jalan Daendels, tepatnya di Kulonprogo memasuki daerah Wates. Saya berhenti sejenak di sebuah SPBU untuk sekadar ngisi bensin dan leyeh-leyeh. Saya menghubungi Mas Irsyad, kawan lama saya yang juga alumni SDIT Badrussalam. Saya bertanya apakah belio masih di Wates, kalau iya saya mau mampir.

(Berlanjut ke part-2..)

3 Replies to “Berkendara di Atas Awan: Sebuah Catatan Perjalanan”

Leave a Reply