Berkendara di Atas Awan: Sebuah Catatan Perjalanan Bagian 2

(baca part 1-nya di sini)

Setelah mendapat jawaban bahwa belio ini ternyata sudah tidak di Wates, saya melanjutkan perjalanan lagi. Jam menunjukkan pukul 24.30 malam.

Dari Wates, saya langsung menuju Yogyakarta, tepatnya ke Jalan Malioboro. Agak melenceng dari rute yang sudah ditentukan sih sebetulnya. Lha terus ngapain? Gak apa-apa sih, biar afdol aja. Hahaha. Sekalian pengin nyari minuman anget, kapan lagi motor butut ini nyasar ke Malioboro. Jarang-jarang, kan.

Jalan Malioboro
Nyasar

Sesampainya di Yogyakarta, yang saya cari pertama adalah wedang. Beruntung, masih ada beberapa angkringan yang buka jam segitu. Sambil istirahat dan ngobrol-ngobrol sama bapak penjualnya, sekaligus numpang ngecharge hape.

Jogja-Solo

Malam telah berlalu, hari juga sudah berganti baru. Tanggal 19 Agustus, pukul 03.00 pagi, saya melanjutkan perjalanan ke arah Solo.

Tugu Jogja
Tugu Pal Putih

Dari jalan Malioboro, karena waktu itu masih dini hari, saya melawan arah melewati Mangkubumi menuju Tugu Yogyakarta, lalu belok kanan menuju Solo via jalan raya Jogja-Solo. Jalanan masih sepi, tidak ada kendaraan lain selain truk dan bus. Sesekali lewat mobil pribadi.

Memasuki kota Solo, fajar mulai menyingsing. Jam 04.30, saya berhenti sejenak untuk Subuh dan jalan kaki di sekitar masjid untuk mencari makanan. Saya lupa nama daerahnya.

UNS Solo
Solo

Suhu udara masih membuat rahang gemetar. Dengan kecepatan standar, motor saya melaju melewati batas kecamatan demi kecamatan sampai akhirnya bertemu pada dua pilihan jalur: Lewat Ngawi, atau lewat Tawangmangu.

Gerbang Tawangmangu
Memasuki Tawangmangu

Hanya karena berpikir jalur Tawangmangu jaraknya lebih pendek (asumsi saya akan lebih cepat), saya memutuskan lewat Tawangmangu. Berbeda dengan lewat jalur Ngawi yang mengitari gunung Lawu, jalur Tawangmangu ini menanjak gunung sehingga lebih pendek.

Solo-Magetan

Namun lagi-lagi saya salah. Bukannya waktu perjalanan yang lebih cepat, malah justru lebih lambat sekali. Jelas lah, selama perjalanan, mulai dari Karanganyar sampai turun di Magetan, mata saya disuguhi pemandangan yang luar biasa indah. Membuat saya yang norak ini berhenti berkali-kali demi memandanginya lebih lama.

jalur gunung lawu
Ini dingin banget

Jam 07.30, saya tidak tahu sudah sampai di mana. Yang jelas, masih belum masuk wilayah Magetan. Matahari waktu itu sudah sangat terik, tapi suhu udara sangat sangat sangat dingin. Saya hampir menyerah karena saking dinginnya. Tapi rasa penasaran ini terus membawa saya maju untuk merasa takjub lagi.

Sampai di Magetan

Matahari kian tinggi. Saya juga naik makin tinggi dan mulai memasuki wilayah sisi gunung yang lain. Sinar matahari di sini tertutup bayangan pohon yang tinggi-tinggi, semakin menambah dingin tubuh saya yang sedari tadi sudah menggigil. Jari-jemari mulai mati rasa.

cemorosewu magetan
Memasuki Magetan

Sepanjang jalan yang saya lihat banyak sekali warung tapi semuanya tutup. Hanya sedikit yang berjualan. Mungkin hanya sekitar 1 dari 10 saja. Sementara saya tak kuasa untuk menarik tuas gas lebih cepat lagi saking dinginnya. Akhirnya saya melaju dengan pelan, sangat pelan.

Jalur gunung lawu
Salah satu spot dengan suhu terendah

Beberapa kali saya berhenti sejenak untuk menghangatkan badan dengan cara mendekatkan diri kepada knalpot. Baru kali ini saya naik motor melewati gunung. Saya memang belum pernah naik gunung pakai kaos My Trip My Adventure kayak orang-orang. Karena tahu di atas sana pasti lebih dingin lagi.

Tidak lama kemudian, saya sampai dan singgah pada sebuah warung yang buka di dekat Telaga Wahyu dan membeli teh anget sekaligus Indomie rebus di sana. Inilah 1 dari 10 warung yang buka itu. Tidak terbayangkan sebelumnya dalam pikiran saya bahwa di warung tersebut tersedia colokan listrik dan wi-fi. Siapa yang bakal nyangka? Rezeki memang datang dari arah yang tidak disangka-sangka.

Telaga Wahyu
Telaga Wahyu

Usai menghangatkan badan dengan teh anget yang sekejap langsung dingin setelah dihidangkan, saya meneruskan perjalanan lagi. Kali ini jalanannya menurun. Kabupaten Magetan sudah terlihat dari atas. Saya sudah mulai mengenali beberapa spot di kanan-kiri jalan. Beberapa masih sama seperti dulu, beberapa sudah banyak berubah.

Hallo, kampung halaman!

1 thought on “Berkendara di Atas Awan: Sebuah Catatan Perjalanan Bagian 2

Leave a Reply