Beli Rumah atau Traveling Dulu? Ini 5 Faktor yang Harus Kamu Pertimbangkan

5 min read

Ingin beli rumah atau traveling dulu? Topik pertanyaan semacam ini sebenarnya sangat luas spektrumnya. Banyak orang terutama anak muda yang pada akhirnya memukul rata antara kemauan dan kebutuhan di antara keduanya.

Rata-rata generasi milenial sekarang lebih mementingkan traveling daripada beli rumah. Apakah itu salah? Oh tidak juga.. Kembali lagi kepada pertimbangan awal, asalkan tidak memukul rata antara kebutuhan dan kemauan.

Pertanyaan semacam ini sebetulnya senada dengan pertanyaan,

  • Mau beli mobil dulu atau beli smartphone?
  • Mau berak dulu atau mau makan siang dulu?
  • Mau nikah dulu atau mau memulai bisnis dulu?
  • Ayam dulu atau telur dulu?

Oke, yang terakhir itu nggak ada hubungannya.

Sebagai seorang pecinta jalan-jalan yang sadar akan perencanaan keuangan yang matang, kalau disuruh memilih, saya tidak ambil pusing mau beli rumah atau traveling dulu. Saya mau dua-duanya aja sekaligus.

Namun ketika keadaan tersebut tidak memungkinkan, tentu kita harus memilih salah satu dan mengorbankan yang lain. Di mana kita harus mampu memisahkan antara kemauan dan kebutuhan. Antara rasional dan emosional.

Untuk itu, kita perlu memiliki pemikiran strategis dan jauh ke depan yang lebih kuat dibanding keahlian kita dalam ‘memukul rata’. Inilah 5 faktor yang harus kamu pertimbangkan sebelum memutuskan untuk membeli rumah atau traveling dulu.

1. Tujuan Pribadi (Personal Goals)

Beli Rumah atau Traveling Dulu

Tidak masalah apabila seseorang tidak memiliki capaian keuangan (financial goals), karena ya saya tahu uang bukanlah segalanya. Tapi kalau tidak memiliki capaian atau tujuan pribadi, ini merupakan permasalahan besar karena hidupnya akan terombang-ambing.

Tujuan masing-masing dari kita berbeda, kelebihan dan kekurangan kita berbeda, situasi kita berbeda, kemampuan kita berbeda, penilaian risiko kita berbeda. Kalau memaksa semua orang untuk harus beli rumah dulu baru traveling atau sebaliknya, itu bukanlah cara yang benar.

Yang seperti itu merupakan cara bagi mereka yang mau menaikkan otoritas dirinya atau dengan kata lain ‘meningkatkan status sosial’ di kalangan mereka. Cara tersebut tentu sangat berisiko, kalau tidak didasari oleh perhitungan yang matang.

Mereka yang menginginkan untuk memiliki rumah terlebih dahulu, adalah mereka yang mungkin memperhitungkan passive income dengan cara menyewakan rumahnya kemudian ia bisa traveling. Maka tak apa untuk membeli rumah terlebih dahulu.

Sedangkan mereka yang memilih untuk traveling terlebih dahulu adalah mereka yang suka mempelajari budaya negeri lain, melihat perbedaan, mempelajari skill baru, dan sebagainya.

Biasanya, mereka ini adalah golongan risk takers, yang biasanya adalah backpackers. Mereka tidak takut untuk mengambil risiko.

Apakah mereka yang memilih untuk beli rumah atau traveling dulu adalah golongan yang bertentangan? Tidak sama sekali. Seseorang bahkan bisa saja menjadi keduanya. Why not?

2. Kebutuhan VS Keinginan

tips memilih rumah

Memiliki rumah pribadi bagi sebagian orang adalah suatu kebutuhan. Namun tidak demikian dengan mereka yang masih melajang. Mereka belum terlalu butuh untuk memiliki rumah pribadi untuk tempat tinggal, dibanding mereka yang sudah berkeluarga.

Mereka yang masih melajang, bisa saja ngekos, atau menyewa rumah kontrakan, atau tinggal bersama keluarga. Kalaupun ingin membeli rumah terlebih dahulu, biasanya lebih kepada untuk investasi properti. Untuk dikontrakkan, misalnya. Dibanding untuk tinggal sendirian saja.

Meskipun mereka yang telah berkeluarga juga sebenarnya bisa mengontrak rumah (karena lebih hemat dibanding membeli), mereka juga harus berusaha untuk memiliki rumah kediaman untuk ditinggali pasangan dan anak-anak mereka, terutama setelah ia meninggal.

Itu baru dua penilaian dari satu aspek pertimbangan. Belum lagi, bagi mereka yang memang karena pekerjaannya harus memaksanya untuk terus mobile pindah sana-sini. Sebentar sebentar ke luar negeri.

Karena traveling pun dapat dibedakan menjadi beberapa kategori, tidak bisa kita memukul rata bahwa traveling itu hanya jalan-jalan saja. Misalnya:

  • Traveling dalam rangka beribadah haji, maka itu merupakan sebuah kebutuhan. (wajib)
  • Ada pula orang yang memang dibayar untuk traveling ke negara-negara tertentu, itu juga kebutuhan.
  • Ada juga orang yang traveling ke luar negeri untuk menuntut ilmu, yang mana juga merupakan kewajiban.
  • Ada orang yang traveling untuk jalan-jalan dan liburan keluarga, itu adalah kebutuhan tersier.
  • Ada juga orang yang traveling hanya untuk foto-foto dan menghabiskan uang, yang tak lain adalah keinginan.

Memiliki rumah untuk tinggal adalah sebuah kebutuhan, namun tidak harus perlu membeli rumah saat itu juga. Mengontrak pun masih bisa. Sebagaimana traveling, bisa jadi kebutuhan atau keinginan belaka.

Sama juga ketika memperdebatkan, mana yang harus lebih dulu dibeli, rumah atau mobil. Ketika mobil memang dibutuhkan untuk mencari nafkah, maka mobil lebih penting. Tanpa adanya mobil untuk mencari uang, rumah pun tak dapat terbeli.

Namun, belilah mobil yang memang memenuhi kebutuhan saja. Apabila belum diperlukan, jangan beli mobil yang mewah-mewah amat. Dari aspek pembayarannya pun, pilihlah yang pembayarannya tidak memberatkan.

Supaya pekerjaan menjemput rezeki tetap jalan, namun juga tidak meninggalkan kebutuhan untuk dapat membeli rumah.

3. Budget dan Kemampuan

tips traveling yang menyenangkan

Inilah memang yang memusingkan kalau berdebat soal beli rumah atau traveling dulu. Karena keduanya memiliki spektrum pertimbangan yang terlampau luas untuk dijabarkan.

Kalau persoalan tersebut ditujukan kepada para fresh graduate, maka lebih banyak lagi poin yang lebih spesifik untuk diperhitungkan. “Para fresh graduate perlu menabung untuk traveling dulu sebelum bekerja, atau membeli rumah dulu?”

Biaya awal untuk beli rumah misalnya, berupa deposito dalam bentuk down payment (DP), biaya hukum, biaya valuasinya, biaya bagi hasil bagi yang memakai sistem syariah, beli perabotan, dan lain-lain.

Itu baru biaya awal, belum lagi masuk ke jenis pembelian rumah yang mana yang ingin diambil: take over kredit kah, under construction kah, lelang kah, atau membangun sendiri kah.

Traveling pun sama, harus memikirkan ongkos penerbangan, ongkos akomodasi darat, ongkos penginapan, makan, kunjungan, dan itinenary lainnya. Belum lagi kepengurusan paspor dan visa, asuransi, dan sebagainya.

Dulu, mungkin traveling keliling dunia adalah sesuatu yang mahal dan mewah yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang kaya saja. Namun sekarang tidak lagi, semakin banyak pilihan akomodasi dan paket travel yang murah-meriah.

Juragan investasi properti bisa saja memiliki banyak aset rumah dengan modal yang rendah, traveler sejati pun juga bisa terbang ke seluruh pelosok dunia dengan budget yang minim.

Oleh karenanya, kita mesti belajar bagaimana caranya memiliki properti yang valuable dengan modal kecil dan belajar bagaimana traveling dengan budget minim, ketimbang stress karena meributkan mau beli rumah atau traveling dulu.

Dalam hal ini, tak ada jawaban betul ataupun salah. Semuanya kembali lagi pada kebutuhan dan tujuan pribadi (personal goals) seperti pada poin pertama tadi.

Makanya, penting untuk menentukan apa personal goals kita. Kalau kita tidak memiliki itu, inilah yang akan membuat kita pusing nantinya. Rumah tak terbeli, traveling pun tidak ada yang jadi. Sibuk memikirkan mana yang lebih baik dilakukan terlebih dahulu.

4. Analisis Risiko

teknik analisis SWOT

Apapun aktivitas yang kita lakukan dalam hidup ini, termasuk dalam hal membeli rumah atau traveling dulu, haruslah kita menganalisis risiko. Apa saja yang dapat kita ambil, apa saja yang mesti kita jauhi, and what will we get in return.

Jika kondisi keuangan kita hanya mencukupi salah satu saja dari membeli rumah atau traveling dan masih saja bingung untuk memilih yang mana, buatlah semacam analisis SWOT.

Sudah tahu kan analisis SWOT?

Analisis SWOT adalah teknik menganalisis sebelum mengambil keputusan, meliputi Strength atau kekuatan, Weakness atau kelemahan, Opportunities atau kesempatan, dan Threats atau ancaman. Analisis SWOT ini biasanya dipakai dalam pengambilan kebijakan dalam bisnis besar.

Kalau masih belum paham, bisa googling hehehe.

Membeli rumah untuk investasi maupun tempat tinggal, berbisnis, traveling, semuanya tidak salah. Hidup ini kan bukan perkara yang objektif, bukan seperti soal pilihan ganda.

Akan tetapi lebih berbentuk subjektif, artinya setiap keputusan dalam hidup ini membutuhan keahlian menganalisis yang kritis dan kreatif.

Memutuskan untuk beli rumah atau traveling dulu tergantung pada analisis risiko. Dan sampai saat ini, analisis SWOT adalah perangkat yang terbaik untuk membantu kita dalam menilai sebuah risiko.

Nah, ketika analisis sudah dibuat dan keputusan sudah diambil, jangan menyesal kemudian. Maka dari itu, analisislah dengan bijak. Be decisive!

Semua ada ilmunya, traveling ada ilmunya, berinvestasi properti pun ada ilmunya. Kata Mas Gesa, setelah bertemu dengan kami kemarin, risiko adalah ketidaktahuan. Semakin kita tidak tahu, maka risiko yang akan kita hadapi semakin besar.

Beli rumah dan berinvestasi di dalamnya jika kita tidak punya ilmunya, sangatlah berisiko. Sudah terlanjur beli, kemudian rugi dan menyesal karena tidak bisa memanfaatkannya.

Begitu pula dengan traveling. Jika tidak punya ilmunya pun sangat berisiko. Karena akan sangat rugi apabila sudah menghabiskan banyak dana untuk traveling, namun ternyata tidak dapat apa-apa.

[irp posts=”1887″ name=”11 Tips Menjadi Manusia yang Menyenangkan ala Rasulullah”]

5. Kemampuan untuk Melakukannya

beli rumah dan traveling

Kalau kita mampu membeli rumah dan traveling sekaligus, why not both?

Harga rumah cenderung tak akan turun, dan memang sebaiknya berinvestasi tanah selagi muda, supaya kita bisa tetap menjaga aliran dana dan juga meningkatkan ekuitas rumah yang lebih tinggi.

Di sisi lain, masa muda adalah masa yang sangat sesuai untuk mencari pengalaman dan berkeliling dunia. Karena pada usia-usia tersebut adalah usia yang masih sangat fit untuk bergerak.

Dengan traveling, kita bisa belajar tentang ilmu baru, budaya baru, membuka wawasan dan pikiran, melihat keagungan Allah dan mensyukuri nikmat-Nya. Traveler sejati bisa backpacker-an ke Jepang hanya dengan modal kurang dari 5 juta saja.

Masa muda kita memang sudah sepatutnya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat, belajar sebanyak-banyaknya untuk bekal di hari tua. Tak ada salahnya mempelajari keduanya antara traveling dan investasi properti. Semakin banyak kita tahu, semakin kecil risiko yang akan kita hadapi.

Intinya, daripada harus pusing mikirin beli rumah atau traveling dulu, mendingan kita belajar untuk memiliki investasi properti dengan modal kecil dan traveling dengan budget minim. Yang terpenting, kita tahu apa yang menjadi tujuan hidup kita.

Mau traveling dulu, bagus. Mau beli rumah dulu, bagus juga. Mau dua-duanya, lebih bagus lagi! 🙂

One Reply to “Beli Rumah atau Traveling Dulu? Ini 5 Faktor yang…”

  1. kalau aku pribadi milih beli rumah dahulu … karena kalo udah punya rumah udah enak nggak sewa=sewa rumah seperti sekarang 🙂

Leave a Reply